Sajak: Kita saudara?

Pada January 17th, 2009, ia ditulis oleh Al-Irfan

Sajak: Kita saudara? 

Bentangan warna menghias dinding galeri,
tubuh terpatung usai dihunjam mata,
selami episod agama anutan baru; Seni.

Berkolah air mata bersaksi jatuhnya,
pasukan pujaan meruntuh tangga.
Tumpul anak tekakmu menguak,
sukan dan agama bukan saudara,
biar dianaktirikan.

Tika kantung merah berisi kentang dikendong,
sekonyong berterabur.
Kerna ombak irama menendang gegendang
telinga manusia konon mendada bukan boneka.
Tumit terangguk meniti rentak,
ke atas bawah kepala dibalun.
Lupa? Itukan simptom sedang diracun? 

Saudara, nah!
Ambillah beliung berkah,
yang diasah Tuhan.
Saudara, ayuh!
Menebas lelalang rapuh,
yang melangit tujuh. 

Oh, kalimah ‘saudara’ itu,
sering menjadi sisa puntung,
yang dicampak ke tanah,
untuk diludah lalu dihinjak.
Sedang mulutmu menyinga,
“Selamatkan saudaraku!”
berjuta kali. 

Al-Irfan
1 Januari 2009
Numazu, Shizuoka.

p/s: Sindiran untuk kamu, termasuk aku.





Jika punya waktu, silakan menjenguk ke entri saya yang lain, ya. Klik tajuk di bawah.