Mereka itu Si Hijau

Pada March 21st, 2008, ia ditulis oleh Al-Irfan

Semalam, telinga aku menghangat hebat. Bukan kerana kari kambing Pakistan, atau kebab ala-Turki yang jadi santapan. Tapi darah mudaku sepanas Kilimanjaro menanti lopong lohong untuk memuntah marah. Terima kasih teman, atas redaanmu. Kemahuanku memberontak. Punggungku ini tak bisa ditahan lagi. Aku mesti melangkah kaki lari dari dunia yang penuh tipu daya dan bertuhankan kezaliman.

Aku bukan si hipokrit, yang bisa duduk semeja dengan mereka. Apatah lagi untuk berpura tertawa pada jenaka, yang aku kira lebih rendah kualitinya dari Raja-raja Lawak kita. Aku terkial-kial. Masih belum biasa dengan jubah barat yang menjadi pakaian tema urusan rasmi mereka. Aku makin pening dengan lagu sudu garfu yang jadi mainan di meja makan. Tak ubah seperti bunyi hunus pedang di medan perang.

Ahh.. Aku benci dunia itu. Sungguh terasing sekali aku rasakan. Yang bersongkok itu nantinya jadi pembaca doa makan. Jubah mereka nanti akan menyilaukan mataku dengan pantulan cahaya jingga dari besi-besi kecil di jubah mereka. Nantinya dunia aku penuh hilai tawa, dengan senda gurau bertepuk tampar sesama mereka.

Sungguh kasihan, Si Hijau yang baru menjejak di bumi tandus, sudah mabuk disogok dengan janji-janji lapuk. Kali ini diugut pula dengan khabar amaran yang Si Hijau ini akan pudar hijaunya jika tidak bersama mereka. Jadi, mereka saling berlumba buku resit siapakah yang lebih tebal, itu yang ditabal pemenang. Emas jingga yang berkilat di kolar jubahmu itu dilihat murahan bila peri kemanusiaan telah kau injak-injak.

Jangan bimbang, Si Hijau.

Aku bersama teman lain akan cuba membawamu keluar dari azab ini nanti.

Menyedut sulaman kata oleh Mak Kucing :

“Manusia-manusia intelek atau cenderung-politik yang leka dengan dunia mereka, mabuk dengan seminar dan kolokium, diskusi dan persidangan, bergesel bahu dengan tokoh akademik dan makan semeja dengan pemuka parti-parti besar, langsung mendabik dada sebagai saviour , pembela dunia. Konon mau membela nasib umat yang tidak mereka kenalpun sebenarnya. Mau memperjuangkan keadilan, sedangkan keadilan itu mereka tidak fahampun ertinya. Mau menghapuskan kezaliman, sedangkan kezaliman itu mereka sendiri sebahagian daripadanya. Mau memprotes diskriminasi dan menuntut kesamarataan hak, walhal ruang lingkup hak itupun mereka taksirkan dengan kamus sendiri, bukan dengan perbendaharaan kata orang-orang yang konon mereka pertahankan.”

P/S: Maaf ya Mak Kucing. Ayat ini seperti tangkal lenggoknya, jadi ku buat zikir tika mengasap kerisku ini.

Jika punya waktu, silakan menjenguk ke entri saya yang lain, ya.
Klik tajuk di bawah.