Gula-gula berharga senyuman.

Pada August 22nd, 2008, ia ditulis oleh Al-Irfan

Memerhati satu persatu pohon-pohon bergerak melepasi gerabak dari dalam. Membuatkan kepala semakin berat. Sesekali bahan rujukan dibelek sebagai persediaan. Dengan pena marker di tangan kanan, sambil tangan kiri menahan helaian tafsir Quran, aku terlalu asyik merenung setiap patah kata yang tersusun indah. Sehinggakan aku tidak sedikit pun menghiraukan siapakah dia yang duduk bersebelahan denganku. Malah selang setiap jam, bersilih ganti orangnya.

Perjalananku atas perjuangan menuntut ilmu wahyu ke Ibaraki, mengunyah waktu sepanjang lima jam perjalanan dengan keretapi. Beberapa kali aku bertukar tren dan kematu punggung menahan duduk.

Tiba-tiba, muncul dua butir gula-gula di atas kitab tafsir yang sedang terbuka. Aku menoleh ke kanan. Sepasang mata milik seorang wanita tua sedang merenung jauh menerobos mataku. Dengan berbaju compang-camping, dan bertopi kebun, lusuh. Namun, senyumannya sudah cukup menenangkan jiwa.

Douzo” (Silakan), pelawa wanita tua itu sambil tersenyum.

Akhirnya, membuat aku berhenti dari menelaah, lalu duduk bersandar sambil mengoyakkan gula-gula hadiah darinya.

-”Arigatou gozaimashita“.

Perisa mint bercampur coklat. Aku masukkan plastik gula-gula ke dalam poket. Entah kenapa, tiba-tiba saja tanganku segera ditarik olehnya.

ii des yo” (Tak mengapa), kata wanita tua itu.

Tangannya mengambil plastik gula-gula dan memasukkan ke dalam karung plastik yang dibawa. Terpegun sebentar dengan tingkahnya yang begitu disenangi.

“Baca apa tu? Pelik tulisannya,”

jari telunjuknya dihalakan ke kitab setebal kamus ini.

-”Ini namanya Koran, berbahasa Arab. Tapi dengan terjemahan bahasa ibunda saya”

“Wah, awak boleh berbahasa Jepun. Bahasa Arab pun awak pandai? Atama ga ii ne.. (kepala yang bagus)”

-”Eh, tidaklah. Saya cuma mampu membaca, tapi tak mahir maksudnya. Itulah sebab saya membaca terjemahan dari bahasa Ibunda saya.”

“Boleh bacakan untuk saya?”

Dengan berpeluh-peluh, aku pun menyelak helaian yang sedang dibuka. Sambil otak berlegar pantas mencari apakah perkataan Jepun yang sesuai untuk setiap patah yang dibicarakan oleh kalamNya.

ARRA no namae de..” (dengan nama Allah), merangkak-rangkak perkataan itu disebut.

Tak sempat aku habiskan ayat Bismillah, wanita tua itu bergegas bangun dan berjalan meninggalkanku. Keretapi sedang berhenti di stesen yang hendak dituju olehnya.

Tergamam. Selepas itu, perjalananku dihurung kebimbangan yang melampau. Aku tahu, aku tak akan mampu menterjemahkan alQuran itu ke bahasa Jepun. Dan sememangnya orang tua itu seakan tahu aku takkan bisa menghabiskan terjemahan kata-kata Tuhanku. Kalimah “Bismillahirrahmanirrahim” itu saja sudah membuatkan nafasku tercungap-cungap.

Oh, Tuhan. Apakah ini yang sedang ingin kau tunjukkan padaku?

Jika punya waktu, silakan menjenguk ke entri saya yang lain, ya.
Klik tajuk di bawah.